Salah satu prinsip yang paling banyak dianut oleh manusia dimana pun dalam hubungan ekonomi adalah bahwa sumber daya alam bebas diusahakan untuk kepentingan manusia.
Dari prinsip itulah maka perusahaan-perusahaan air kemasan tidak membayar air yang mereka ekstrak, kayau yang ditebang tidak perlu dibayar, mobil tidak membayar polusi udara yang dihasilkan, sementara perusahaan minyak hanya membayar untuk minyak yang diekstrak dan seterusnya.
Masalah ini dikenal sebagai tragedi bersama yang buruk yang sudah ada sejak dulu dalam era kapitalisme. Untuk itu memang perlu memaksakan pembatasan terhadap perusahaan yang merusak, mencemari alam sehingga sisa alam yang ada dapat diselamatkan. Tapi kadang itu juga tidak jalan!
Akibat prinsip itu juga terjadi terjadi deforestasi yang terus menghancurkan perlindungan keanekaragaman hayati di seluruh dunia, emisi gas rumah kaca di atmosfer dan berkonsentrasi pada percepatan perubahan iklim, bahkan dilaut ikan dan terumbu karang yang menghilang sudah pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Hal ini tidakbisa terjadi terus menerus. Kita perlu melakukan sesuatu melawan kejahatan tersebut. Seorang bankir berpendapat, kita harus mulai untuk menentukan harga pada alam ini.
Setelah semua yang terjadi, alam tidak semua dimiliki dengan bebas, perlu ada harga yang harus dibayar untuk semua hal yang telah diambil dari alam.
Hal membayar terhadap alam memang bukan konsep baru, dan bahkan telah ditulis tentang The Economics of Ecosystems and Biodiversity TEEB atau Aspek Ekonomi Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati. Harian The Guradian bahkan menulis laporannya soal ini, yaitu bahwa Aspek ekonomi Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati dikembangkan dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa khususnya bidang lingkungan. Konsep ini dirancang untuk menyoroti meningkatnya biaya degradasi ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati dan untuk mempertemukan keahlian dari bidang ilmu pengetahuan, ekonomi dan politik tindakan praktis untuk diberdayakan bagi alam. Meski sudah dipublikasikan, penggagasnya Pavan Sukhdev mendapat reaksi yang beragam.
Lingkungan yang terkena dampak akibat dari kerja sebuah perusahaan harusnya diperbaiki oleh perusahaan itu. Sukhdev dalam konsep itu memberikan contoh bahwa terumbu karang memberikan nilai ekosistem bukan hanya penghasilan bagi nelayan lokal tetapi kepentingan masyarakat di bidang pariwisata dan perlindungan pantai. Bahkan para ahli tengah meneliti sebuah obat untuk kanker dan penyakit Alzheimer dari spesies terumbu karang. Semua itu bisa gagal jika terumbu karang mata akibat pengrusakan yang terjadi.
Dengan konsep Aspek Ekonomi Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati dapat membantu menetapkan biaya sebenarnya dari penurunan terumbu, atau hipotetis yang memungkinkan pemerintah untuk mengalokasikan kontribusi setiap perusahaan yang ikut memberikan dampak penghancuran karbon terumbu karang. Dengan konsep itu diharapakan bukan hanya pada terumbu karang tetapi juga bermanfaat pada ekosistem lainnya. Konsep ini bisa diterima oleh negara yang memang mau memperbaiki alamnya untuk kehidupan selanjutnya. Tapi bisa juga ditolak karena dominasi politik dan ekonomi neoliberal dunia yang berpihak ada industry.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar